Hero section image background

Ekonomi Indung: Warisan Leluhur Sunda yang Menjawab Tantangan Krisis Masa Kini

Senin, 28 Juli 2025

Ekonomi Jabar

609

Postingan ini dilihat

0

Postingan ini dibagikan

Poster post Ekonomi Indung: Warisan Leluhur Sunda yang Menjawab Tantangan Krisis Masa Kini

Bandung, 28 Juli 2025. Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, sebuah konsep ekonomi tradisional Sunda yang nyaris terlupakan kini mulai kembali diperbincangkan. Dalam forum apel pagi yang diselenggarakan di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kepala Biro Perekonomian, Budi Kurnia, memperkenalkan kembali gagasan “Ekonomi Indung”—sebuah sistem ekonomi rumah tangga berbasis kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur di lembur-lembur Sunda.

Membangun Kembali dari Warisan Lupa

Berbicara di hadapan para peserta apel pagi, Budi menjelaskan bahwa konsep ekonomi indung bukanlah sekadar romantisme masa lalu, melainkan formula nyata yang telah lama teruji dalam menghadapi berbagai krisis, dari masa penjajahan hingga masa-masa sulit pascakemerdekaan.

"Ekonomi indung adalah kebiasaan yang sangat membumi. Ia tumbuh dari naluri emak-emak di kampung yang tahu persis bagaimana mengatur keuangan tanpa belajar teori ekonomi sekalipun," ujarnya.

Konsep ini menekankan pada keseimbangan antara kemampuan fiskal (uang) dan stok pangan rumah tangga. Di masa lalu, masyarakat tidak tergantung pada pasar karena hampir semua kebutuhan pangan tersedia di halaman rumah: dari sayur mayur, buah-buahan, hingga ternak kecil seperti ayam dan domba.

Ekonomi Indung untuk Perekonomian Jabar
Ekonomi Indung untuk Perekonomian Jabar

Ketahanan Pangan Dimulai dari Rumah

Budi menyampaikan bahwa filosofi “stok pangan sama pentingnya dengan uang” dulu begitu kuat dipegang oleh masyarakat. Kulkas rumah tangga diibaratkan sebagai lumbung modern yang seharusnya mencerminkan kesiapan keluarga dalam menghadapi masa sulit selama seminggu atau bahkan sebulan penuh.

Ia menceritakan pengalaman pribadinya saat Lebaran di kampung. Ibunya, tanpa belanja tambahan, mampu menyambut puluhan anggota keluarga dengan stok ayam dan beras yang telah disiapkan berbulan-bulan sebelumnya. “Itu bukti bahwa perencanaan logistik keluarga bukan hanya tentang hemat, tapi juga tentang martabat,” katanya.

Kontra Budaya Konsumtif Modern

Di sisi lain, Budi mengkritik gaya hidup masyarakat urban masa kini yang dianggap semakin konsumtif. Banyak rumah tangga, ujarnya, tidak lagi membedakan antara kebutuhan primer dan keinginan semata.

“Baru beberapa hari setelah gajian, banyak yang sudah kelimpungan mengelola keuangan,” ucapnya.

Ia menyoroti fenomena pengeluaran untuk barang-barang tidak mendesak seperti perawatan kulit mahal di tengah kelangkaan beras sebagai contoh kontras pemahaman kebutuhan. Lebih jauh, ia menyebutkan bahwa masyarakat modern seakan terhipnosis oleh iklan dan promosi produk yang membuat perilaku konsumtif semakin membudaya.

Membangun Sistem Ekonomi dari Akar

Konsep Ekonomi Indung tidak hanya bertumpu pada nostalgia, tetapi memiliki potensi besar sebagai strategi ekonomi mikro yang aplikatif. Dengan memanfaatkan lahan sekecil apapun, memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan pokok, serta membudayakan penyimpanan logistik pangan secara terencana, keluarga bisa menjadi unit ekonomi tangguh yang tidak mudah goyah oleh gejolak eksternal.

Menurut Budi, inilah saatnya Jawa Barat dan Indonesia secara umum menggali kembali warisan tak tertulis ini.

“Ini bukan teori kosong, tapi sistem ekonomi yang terbukti membuat bangsa kita bertahan bahkan dalam masa penjajahan sekalipun,” tuturnya.

Menutup dengan Optimisme

Mengakhiri paparannya, Budi mengajak masyarakat untuk membaca ulang sejarah ekonomi rumah tangga kita sendiri. Ia menekankan bahwa kebangkitan ekonomi tidak selalu harus dimulai dari level industri besar, tapi bisa juga dari dapur, lemari es, dan halaman rumah.

“Saya baru dua bulan menjabat, tapi saya yakin jika kita bersama-sama kembali pada sistem yang telah teruji ini, maka kita akan lebih siap menghadapi masa depan,” tutupnya. 

Penulis: rendyakb

Tags

  • apelpagi
  • biroperekonomian
  • setdajabar
  • ekonomiundung
  • ekojabar
  • pembinaapel